Loading
Nagitec

Mengenal Web3 dan Manfaatnya

image title

Belakangan, seiring dengan berkembangnya teknologi blockchain, bermunculan pula istilah baru yang mengiringinya. Antara lain cryptocurrency, Non-Fungible Tokens (NFT), metaverse hingga Web3. Nah, boleh jadi, sebutan Web3 tidak banyak orang mengenalnya.

Apa itu Web3 atau Web 3.0? Uniknya, sejauh ini, definisi Web3 ini belum standar, tergantung pada siapa yang menggambarkannya. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan tahap selanjutnya untuk kemajuan internet. Tetapi ada juga yang percaya bahwa Web3 hanya akal-akalan pengusaha besar yang ingin menumbangkan raksasa teknologi yang kita kenal saat ini.

Alasan utama begitu banyak orang bekerja keras untuk mendesain ulang Internet saat ini adalah karena sebagian besar platform Internet paling populer saat ini dikendalikan oleh hanya segelintir perusahaan kuat, yang mendapat untung dari data yang dibuat pengguna.

Ide utama di balik ‘versi ketiga’ Internet (Web3), menurut para pendukungnya, adalah menggabungkan berbagai teknologi blockchain, cryptocurrency, NFT, dan sebagainya untuk membuat web yang tak terlalu bergantung pada lima perusahaan teknologi besar. Pendukung Web3 ingin melihat internet berada di tangan pengguna. Bukan dikelola oleh perusahaan tertentu yang semena-mena terhadap konten.

Web3 pada dasarnya adalah cara baru bagi individu untuk menggunakan Internet tanpa mengorbankan privasi dan data berharga mereka.

Untuk memahami apa itu Web3, maka mesti memahami versi Internet sebelumnya. Fase pertama dari Internet dimulai pada tahun 1991. Fase ini dapat dicirikan oleh cara awal pengguna berinteraksi dengan web. Sebagian besar pengguna, selama iterasi pertama web, adalah konsumen pasif konten. Halaman web statis seperti situs Space Jam, yang dirancang dengan sederhana menurut standar saat ini, memberikan informasi kepada pengguna dengan sedikit interaksi. Dengan kata lain, Web 1.0 adalah tentang membaca, bukan menulis. Itu statis bukan dinamis. Itu berubah dengan Web 2.0.

Fase besar berikutnya dari Internet, awal 2000-an, berkisar pada interaktivitas dan pengguna. Pada tahap ini, pengguna membuat sebagian besar konten di platform seperti YouTube, Facebook, atau Twitter. Internet ini lebih sosial dan kolaboratif, tetapi biasanya ada harganya. Kerugian dari Internet yang lebih partisipatif ini adalah, ketika membuat konten, pengguna juga mulai memberikan informasi dan data pribadi kepada perusahaan yang mengontrol platform ini.

Jadi, pada awal 2000-an, Internet didominasi oleh konten kreator besar dan kebanyakan pengguna adalah konsumen. Perubahan pada Web 2.0 memungkinkan pengguna bisa menjadi pemain pada industri dengan membagikan konten mereka.

Nah, Web3 akan menjadi langkah selanjutnya. Pengguna bukan hanya pembuat konten, mereka juga bertanggung jawab atas platform tempat konten dibagikan. Entitas terpusat, seperti Facebook, Twitter, dan Google, akan digantikan oleh platform media sosial dan mesin pencari tanpa perusahaan di belakangnya.

Walaupun belum ada definisi tunggal mengenai Web3 ini, namun Web3 mengacu pada Internet yang dimungkinkan oleh jaringan terdesentralisasi yang didasarkan pada teknologi blockchain. Blockchain adalah buku besar digital yang digunakan untuk melacak pergerakan objek digital seperti cryptocurrency (Bitcoin, Ethereum).

Cryptocurrency, secara teori, melewati otoritas pusat seperti bank. Web3 juga, secara teori, akan melewati otoritas pusat. Inovasi utama dari jaringan ini adalah pembuatan platform yang tidak dikendalikan oleh satu entitas pun, tetapi masih dapat dipercaya oleh semua orang. Itu karena semua pengguna dan operator jaringan ini harus mengikuti seperangkat aturan kode keras yang sama yang dikenal sebagai protokol konsensus.

Inovasi sekunder adalah bahwa jaringan ini memungkinkan nilai atau uang untuk ditransfer antar rekening. Dua hal ini – desentralisasi dan uang di Internet – adalah kunci untuk memahami Web3.

Jadi, Web3 atau Web 3.0 adalah sebuah konsep menyeluruh yang mengacu pada fase berikutnya dari evolusi Internet. Gagasan baru ini sengaja dirancang untuk mengatasi masalah umum yang berpotensi menjadi masalah yang melekat pada Internet saat ini. Selain itu, konsep ini juga hadir untuk membangun ekosistem online di mana interaksi yang berpusat pada manusia dan sangat personal.

Web 3.0 sengaja dirancang untuk mengatasi masalah yang lazim dan melekat pada ekosistem Internet saat ini. Namun, tidak ada otoritas terpusat yang mengawasi perkembangan Internet baru dan terbuka ini. Sebaliknya, Internet versi ini tengah dibuat melalui upaya berbagai macam bisnis swasta, non-profit organization, dan individu yang diselaraskan secara bebas. 

Entitas yang berbeda ini mendekati pengembangan internet versi tiga ini dalam berbagai cara. Dengan organisasi seperti Web3 Foundation terutama berfokus pada penetapan pedoman untuk keseluruhan sistem Web 3.0. Sementara bisnis seperti ConsenSys Labs membantu wirausahawan membangun decentralized applications (dApps) yang mungkin akhirnya mengisi lanskap digital internet versi baru ini.

Web3 merupakan sebuah dobrakan untuk membuka jaringan dengan karakteristik yang bersifat terbuka, trustless dan permissionless. Terbuka, karena jaringan ini dibangun dari perangkat lunak bersifat open-source. Jaringan ini pun dibuat oleh komunitas developer yang terbuka dan dapat diakses serta dijalankan dalam tampilan penuh. Trustless, karena jaringan itu sendiri memungkinkan peserta untuk berinteraksi secara publik atau pribadi tanpa melibatkan pihak ketiga yang tepercaya. Permissionless, di mana pun dan siapa pun, baik pengguna maupun pemasok, dapat berpartisipasi tanpa izin dari lembaga pengatur.

Sementara Web 2.0, atau internet yang saat ini kita gunakan, didorong oleh munculnya telepon seluler, media sosial, dan cloud, Web3 sebagian besar dibangun di atas tiga lapisan baru inovasi teknologi, yaitu: edge computing, jaringan data yang terdesentralisasi, dan artificial intelligence.

Keuntungan utama Web3 adalah mencoba memecahkan masalah terbesar yang diakibatkan oleh Web 2.0, yaitu pengumpulan data pribadi oleh jaringan pribadi yang dijual kepada pengiklan atau bahkan berpotensi dicuri oleh peretas.

Dengan Web3, jaringan terdesentralisasi. Jadi tidak ada entitas yang mengontrolnya, dan aplikasi terdesentralisasi (dapps) yang dibangun di atas jaringan dibuka. Keterbukaan web yang terdesentralisasi berarti tidak ada pihak yang dapat mengontrol data atau membatasi akses. Siapa pun dapat membangun dan terhubung ke dapps yang berbeda tanpa izin dari perusahaan pusat.

Di Web3, uang adalah asli. Alih-alih mengandalkan jaringan keuangan tradisional yang terhubung dengan pemerintah dan dibatasi perbatasan, uang di Web3 bersifat instan, global, dan tanpa izin. Ini juga berarti bahwa token dan cryptocurrency dapat digunakan untuk merancang model bisnis dan ekonomi yang benar-benar baru, bidang yang semakin dikenal sebagai tokenomics. Misalnya, iklan web terdesentralisasi tidak perlu bergantung pada penjualan data pengguna kepada pengiklan, tetapi dapat memberi penghargaan kepada pengguna dengan token untuk melihat iklan

Singkatnya, Web3 memungkinkan masa depan di mana pengguna dan mesin dapat berinteraksi dengan data, nilai, dan rekanan lainnya melalui substrat jaringan bersifat peer-to-peer. Dengan begitu, interaksi tidak lagi memerlukan pihak ketiga. (*dari berbagai sumber)